Aku adalah seorang gadis yang masih duduk dibangku SMU waktu itu, ayah ibuku teramat sayang dan membanggakanku sebagai anak sulung dalam keluargaku, karena prestasi akademik, seni dan juga aktivitasku disekolah dan dimasyarakat. Bahkan saking sayangnya, tak pernah orang tuaku menugasiku dengan pekerjaan-pekerjaan rumah atau memerintahkan yang macam-macam, maksud mereka agar aku tetep mempertahankan prestasi dan aktivitasku. Akupun bahagia karena bisa membuat orang tuaku bangga terhadapku.
Tatkala hidayah menyapa…
Ditengah tahun pertamaku dibangku SMU, Alloh memberi anugrah terindah dalam hidupku untuk mengenal Al Haq, manhaj salaf. Hatiku amat tentram tatkala mengenal dan menyelaminya lebih dan lebih dalam. Teman-teman yang sholih, ilmu yang kokoh, dan manisnya ukhuwah islamiyah membuat hatiku berazam tuk selalu menggenggamnya kuat-kuat dengan sepenuh jiwa. Disela-sela kesibukan sekolah selalu kusempatkan mengulang materi kajian yang lalu agar tak lekas hilang dari ingatan. Berhubung kajian rutin diadakan sore hari, akupun mulai sering absen kegiatan-kegiatan sekolah disore hari, atau paling tidak datang sebentar setor muka lalu berangkat ketempat kajian. Setiap harinya, acara kajian sore adalah acara yang paling kunantikan, jika ustadz mulai membuka majelis kajian dengan khutbah hajjah hilanglah semua penat yang kubawa dari sekolah, subhanalloh indahnya…
Aku masih merahasiakan perihal aktivatas talimku dari ayah dan ibuku, karena dilingkunganku orang-orang masih mengganggap masjid tempatku kajian adalah islam aliran keras dan ekstrim. Jika pulang kajian kemalaman, alasan klasikku adalah belajar bersama teman-teman (nggak bohong kan… bukankah kajian adalah belajar ilmu agama bersama teman-teman!!??). Aku mulai malu memakai jilbab seragam yang pendek, kuusulkan pada ibu agar membuatkanku jilbab yang lebih lebar sehingga menutup sampai bawah pinggang, kusampaikan pula dalilnya bahwa syarat jilbab yang benar adalah yang tidak membentuk lekuk tubuh, tapi orang tuaku belum bisa menerima waktu itu dengan alasan tidak rapi, terlalu ekstrim dan aneh dimasyarakat kita. Aku tak surut langkah, alhamdulillah ada kakak kelasku yang berbaik hati menghibahkan sebuah jilbab besar untukku, senang sekali rasanya. Tapi ternyata orang tuaku memarahiku habis habisan karena jilbab yang kukenakan ini sudah lusuh dan membuat malu orang tua. Kujelaskan lagi dengan lembut bahwa berjilbab yang benar itu wajib, dan baru inilah kemampuanku untuk memakai jilbab, belum bisa beli jilbab yang lebih bagus agar ayah ibu tidak malu. Ayah ibu trenyuh juga, hingga aku dibelikan jilbab yang tidak terlalu besar memang, tapi lebih mending dari pada pakai jilbab kecil yang tidak menutup aurat. Sedikit demi sedikit kuberi masukan pada ayah ibu untuk mengenal manhaj Al Haq, ada kalanya ayah mendebatku hingga aku terpojok karena kurangnya ilmuku, namun segera kudinginkan dengan bermuamalah dan sikap yang sebaik mungkin agar tak ada kebencian dalam hati mereka.
Ayah ibuku akhirnya tau…
Lama kelamaan semangat makin tertanam kuat dalam hatiku, aku faham syariat hijab (cadar) bagi wanita, walau aku meyakini bahwa yang kuketahui hukum cadar adalah sunnah muakadah wallohu a’lam namun aku ingin mengamalkannya dalam keseharianku sebagai pengagunggan terhadap sunnah Rosululloh dan juga lebih menjaga kehormatan. Jelas dihadapan orangtuaku aku belum berani, aku memakainya jika keluar rumah dengan sembunyi-sembunyi agar tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar (dilarang kajian, tidak boleh keluar rumah, dsb). Dari rumah aku masih memakai baju dan jilbab kecil biasa, sesampainya dikebun dekat rumah kukeluarkan dari tasku jubah dan jilbab lengkap dengan cadarnya lalu kupakai rangkap dengan pakaian sebelumnya, panas memang tapi baru cara ini yang bisa kutempuh. Saat pulang kerumah begitu juga, jubah dan jilbabku kulepas dikebun itu, lalu aku pulang dengan pakaian biasa. Untuk beberapa lama caraku ini berhasil, sampai ketika tetangga mulai ada yang melaporkan pada ibuku bahwa tadi dijalan bertemu denganku berpakaian gelap memakai cadar, katanya dia mengenaliku dari cara jalan, mata, dan tas yang kubawa. Jelas ibuku kaget dan mengelak bahwa aku seperti itu. Malamnya aku diintrogasi oleh ayah dan ibu tentang berita itu, ibuku mendesak agar aku jujur. Dengan berat ku-iya-kan kebenaran berita itu sambil kujelaskan alasannya seilmiyah mungkin, berharap mereka dapat memahaminya, derai air mata ibuku dan kemarahan ayahku menegaskan padaku agar tidak berpakaian seperti itu lagi, mereka anggap ini membuat malu keluarga, diperbincangkan orang kesana-kemari. Jilbabku disita ibu dan entah disimpan dimana waktu itu, akupun bingung, bagaimana harus keluar rumah untuk datang kajian? Aku amat malu keluar dengan jilbab kecil!! Ternyata Alloh Maha Mendengar doa hambaNya, temanku meminjamkan sebuah jilbab agar aku bisa keluar rumah dengan jilbab besar dan hijab. Lagi-lagi aku dapat mengikuti kajia-kajian yang mententrankan hatiku yang lelah, aku mendapat banyak nasihat agar istiqomah dan sabar dalam menghadapi rintangan saat mencari ilmu, karena mencari ilmu adalah jihad yang tidak mudah.
Saat aku mulai memberontak….
Aktivitasku mulai berkurang baik disekolah maupun dimasyarakan, aku mulai faham betapa banyak hal-hal yang menerjang nilai-nilai syari didalamnya seperti ikhtilath, hal-hal yang sia-sia, senda gurau yang berlebihan dan yang lainnya. Orang tuaku pun mulai resah dan mengganggapku tidak mau bergaul dengan masyarakat, walau telah kujelaskan bahwa bermasyarakat tidak mesti kita ikut dalam acara-acara yang melanggar batas-batas syari, tetapi yang lebih penting kita dapat menunaikan hak-hak orang lain dan membantu mereka dalam kesulitan-kesulitan mereka, namun alasan ini dianggap tidak masuk akal karena bisa terasing ditengah masyarakat.Hampir setiap hari mereka memperbincangkan perubahanku dan sikapku yang dinilai cukup ekstrim, aku bisa mengerti kegelisahan mereka, tapi aku tak bisa menuruti keinginan mereka untuk berubah seperti dulu lagi. Semangatku yang meluap semakin membuatku bersikap frontal. Aku merasa tidak nyaman berada dirumah, ayah ibu terlalu menekanku, akupun mulai kurang sabar dalam menyikapi setiap penyimpangan dan kesalahan yang melanggar syari didalam keluargaku (yang jelas sikapku yang seperti ini malah memperburuk keadaan). Aku memilih lebih banyak diam dan berlama-lama diluar rumah setelah pulang sekolah entah kajian atau sekedar membaca buku dimasjid. Menjelang senja aku baru pulang dan langsung masuk kamar untuk belajar, kupikir dengan cara ini tidak akan ada lagi keributan antara aku dan ayah. Sering ibu yang memulai menyapaku dikamar, sekedar menanyakan kenapa cemberut… kamu tak seceria dulu lagi. Sebenarnya ingin sekali kukatakan bahwa yang ku inginkan adalah ayah ibu juga faham apa itu kebenaran syariat ini sehingga ayah ibu tak lagi melarangku atau aku harus sembunyi-sembunyi agar tak dimarahi ayah ibu, tapi lagi-lagi ini hanya tersimpan dalam hati yang terucap paling hanya kata “nggak papa kok, Cuma agak capek dan pusing”. Kian hari aku semakin tidak nyaman karena setiap aktivitasku dipantau oleh orang tuaku, apalagi setelah sempat terlontar dariku keinginan untuk meneruskan belajar dipondok pesantren setelah lulus SMU ini, aku tidak terlalu suka belajar ilmu-ilmu duniawi, aku ingin hafal al qur’an. Padahal impian orang tua dan seluruh keluarga adalah aku meneruskan kuliah difakultas kedokteran, bahkan ini telah dipersiapkan sejak aku masih kecil. Mereka marah sekali terhadap keinginanku, berkali-kali aku diperingatkan agar meninggalkan aliran keras yang sedang kudalami demikian masukan dari tetangga-tetanggaku.aku juga dikatakan telah dibuat gila dengan kajian ini, sehingga pemikiranku tidak normal lagi. Jelas aku marah sekali dikatakan demikian, sampai-sampai aku berfikiran bahwa orang tuaku menentang kebenaran islam.
Buah pahit akibat ketergesa-gesaan tanpa ilmu
Walau berkali-kali dikajian dinasihatkan untuk berlaku lemah lembut dalam berdakwah terhadap orang tua namun sulit sekali mengamalkannya, aku takut terpancing emosi atau menangis dihadapan orangtuaku jika mulai membuka dialog. Sikapku dirumah makin memburuk, walau tidak membantah tapi aku amat dingin terhadap mereka. Ibuku yang perasa yang terkena imbasnya, beliau mengalami perdarahan rahim selama beberapa minggu karena terlalu berat berfikir, sebelum itu setiap sepertiga malam aku bangun, selalu kudapati ibuku menangis dalam tahajudnya, sampai tertidur ditempat sholatnya hingga shubuh tiba. Setiap hari kulihat ibu menangis menatapku, berkali kali beliau berkata telah kehilanganku, pupus sudah harapannya, kerja ayah ibupun terbengkelai. Hatiku benar-benar hancur saat itu, aku tak kuasa lagi bertahan dalam sikapku selama ini. Dengan hati susah aku meminta nasihat kepada asatidz, kuceritakan semua kronologis perkaranya. Aku mendapat nasihat yang begitu menampar jiwaku, aku tersadar akan kekeliruanku selama ini yang amat fatal, satu hal yang aku lupakan selama ini bahwa hujjah belum sampai kepada kedua orang tua dan keluargaku bahkan selama ini aku cenderung diam terhadap tuduhan-tuduhan mereka, tetapi aku sudah mensikapi mereka sebagaimana layaknya seorang yang menolak kebenaran. Keluargaku hanya menerima masukan-masukan yang salah dari lingkungan sekitar yang memang belum paham hakikat kebenaran itu sendiri, bukannya meluruskan tapi malah kutambah kebencian mereka dengan sikap yang apatis karena ketergesa-gesaan tanpa ilmu, astaghfirulloh…. Seharusnya aku lebih lembut dan bersabar mendakwahkan kebenaran terhadap keluargaku, bukannya melarikan diri dari rumah. Alloh saja memerintahkan nabi Musa untuk mengucapkan perkataan yang lembut terhadap fir’aun yang jelas-jelas gembong thogut, apalagi terhadap orang tua kita tentu jauh lebih berhak.
Hujjah pun tegak membawa embun hidayah
Ustadz berinisyatif untuk bersilaturahim kerumahku untuk menjernihkan ketegangan dikeluargaku, alhamdulillah ayah ibu terbuka menerima kedatangan beliau. Ustadz mempersilahkan ayah ibu untuk menceritakan kegelisahan yang dirasakannya selama ini, ibuku sambil menangis meluapkan segala keluh kesah dan kebingungannya. Dijelaskan oleh ustadz mengapa aku bersikap demikian, bagaimana seorang muslim harus ttunduk terhadap alqur’an dan sunnah, dijelaskan pula bahwa islam tidak menghalangi seseorang dari meraih manfaat didunia ini asal dalam batasan syari. Ustadz juga menjelaskan bahwa seorang anak wajib berbuat baik kepada orang tuanya dan selama ini aku telah bersikap salah. Ustadz menjelaskan ini semua dengan sangat lembut dan bersahabat, hingga dapat menyadarkan orang tuaku tentang hakikat kebenaran, keindahan dan kesempurnaan islam. Subhanalloh tatkala Alloh telah memberikan hidayahnya maka tidak sulit bagiNya membolak balik hati seseorang hambaNya. Akupun menyesali sikapku dan meminta maaf pada kedua orang tuaku atas kesalahanku selama ini. Sejak saat itu orang tuaku rajin bersilaturahim kerumah ustadz tuk meminta nasihat atau sekedar titip oleh-oleh untuk ustadz jika aku berangkat kajian. Kini tak lagi ada yang disembunyikan untuk sebuah kebenaran. Kini langkahku dijalan dakwahpun beriring senyum dan doa bundaku tercinta….
Alhamdulillah ya Alloh atas segala limpahan ni’mat yang Engkau berikan. Jagalah kami diatas keimanan terhadapMu dan mencapai puncaknya saat ajal menjemput kami.













Nope Said:
on 16 Februari 2009 at 3:30 pm
Assalamu’alaikum
Subhanallah..
Kisah ini walau tdk 100% persis, tapi bisa dibilang saya juga mengalami hal yg sama, ya ukhti..
Saya tau persis bgmn susahnya berdakwah dalam keluarga, terlebih saya pun masih sangat2 fakir dalam ilmu. Terkadang saya bisa memahami suatu hal/hukum dalam agama, tapi jikalau harus menyampaikannya kpd keluarga/teman, saya benar2 ‘tidak berdaya’. Terkadang saya hanya bisa memohon ampun kpd Allah atas diri ini yg masih sangat bodoh dalam dien dan dakwah.
Ukhti masih beruntung memiliki ustadz yg bisa dimintakan tolong, tapi saya?? Saya benar2 sendiri, bahkan utk bertanya tentang sesuatu yg saya tdk mengerti saja, saya tdk tahu harus bertanya kpd siapa. Websites2 Islami seperti muslimah/muslim.or.id, dan yg sejenisnyalah yg banyak membantu saya belajar. Terkadang saya merasa sendirian dan tdk tahu harus mencari teman kemana.
Saya senang sekali kalau ukhti berkenan utk berbagi ilmunya dengan saya, dan mau menjadi teman saya.
Wassalamu’alaikum..
ernovia Said:
on 2 November 2011 at 5:54 pm
assalamu’alaikum ummu
ana mau izin tag crta’a ke blog ana, boleh gak???
jazzakillah khoir