ditulis oleh : Abu Abdurrahman Raihan
Hari ini, saat kutulis cerita ini, tak terasa bulan sabit itu telah menghilang mengiringi usainya bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan berkah ini. Aku baru sadar, seolah baru terbangun dari tidurku, ternyata Ramadhan telah berlalu begitu saja tanpa kusadari.
Mungkin malam ini adalah malam terakhir Ramadhan tahun ini, tapi aku belum tahu. Akankah aku bisa bertemu dengan Ramadhan lagi tahun depan. Karena setiap jiwa yang memiliki nyawa pasti tidak aman dari intaian kematian. Semoga Allah masih panjangkan umurku hingga bertemu dengan Ramadhan tahun depan.
Saat kutulis cerita ini, kudengar lantunan Al Qur’an beberapa temanku yang begitu lain dari biasanya, begitu menyentuh dan membuat mata berkaca-kaca. Ramadhan, bulan diturunkannya Al Qur’an itu kini akan meninggalkanku, sedangkan aku belum sempat mengambil banyak pesan dan pelajaran darinya. Ya Allah semoga Engkau jadikan amalku yang begitu sedikit ini betul-betul hanya mengharap wajah-Mu dan ampunilah segala kekurangsempurnaan amal ibadahku ini.
Kutuliskan cerita ini disaat orang-orang di luar sana sudah mulai sibuk dengan persiapan lebaran, mudik dan sebagainya. Hari dimana masjid-masjid mulai sepi, hari dimana Ramadhan akan segera berlalu dan orang akan mulai melupakannya. Aku berharap dengan tulisan ini mampu mengingatkanku di penghujung Ramadhan ini dan segera bertaubat kepada Allah, semoga belum terlambat.
إِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya.”
Begitulah kiranya kuteringat sabda Rasulullah. Makanya tak heran kalau di sepuluh hari terakhir, Rasulullah mencontohkan untuk beriktikaf dan mulai mengencangkan ikat pinggang, membangunkan keluarganya di tengah malam. Beliau semakin giat beribadah sebelum mengakhiri Ramadhan.
Wahai Ramadhan, bulan puasa yang telah difirmankan oleh Allah: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Sungguh sebuah pesan agung tersimpan di balik ayat ini, “…..agar kamu bertakwa”. Malangnya aku, sudahkah tujuan puasa itu kudapatkan?! Karena jelas, orang yang sempurna puasanya, maka puasa akan menjadi perisai baginya,
اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai”
Puasa menjadi perisai bagi pelakunya dari kemaksiatan di dunia dan akan menjadi perisai dari api neraka kelak di akhirat.
Sudahkah puasaku ini betul-betul mampu membuatku terdidik untuk meninggalkan kemaksiatan sebagaimana aku terdidik meninggalkan hal yang mubah (makan, minum) pada saat puasa. Karena puasa tidak akan menjadi perisai dari neraka kecuali sudah menjadi perisai dari kemaksiatan di dunia. Ya Allah terimalah puasa hamba-Mu ini.

Wahai Ramadhan, bulan dimana Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan (tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala hanya dari Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Sholat tarawih, sholat malam yang telah menjadi sebab orang-orang berbondong-bondong ke masjid, mungkin aku bisa menjalankannya di bulan Ramadhan ini, tapi apakah aku masih bisa melaksanakan shalat malam selepas Ramadhan nanti?! Rasulullah pernah dikomentari istrinya tercinta, ibunda kaum mukminin, Aisyah, tentang sholat malam beliau, tatkala Rasulullah sholat malam hingga kaki beliau bengkak, “Kenapa engkau melakukan ini padahal dosa-dosa engkau telah terampuni baik yang dulu maupun yang akan datang?” Beliaupun menjawab dengan sebuah pertanyaan tak berjawab, “tidak layakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Sungguh sebuah suri tauladan yang menakjubkan. Rasulullah selalu menghiasi malam-malam beliau dengan shalat, bahkan kalau terluput beliau gantikan di siang harinya. Dalam kesempatan lain beliau juga pernah menyampaikan,
“Dan telah dijadikan shalat sebagi penyejuk mata bagiku”
Amat jauh sekali diri ini yang mengaku Rasulullah sebagai suri tauladannya. Sebenarnya Ramadhan telah menyampikan pesan ini kepadaku setiap kali ku bertemu dengannya. Namun, ternyata pesan itu terlupa seiring kutinggalkannya Ramadhan. Ya Allah kuberharap Ramadhan kali ini mampu membangunkan tidur panjangku, menjadikanku sadar akan keagungan shalat, shalat yang benar-benar mampu menjadi penyejuk mata bagiku, shalat yang akan selalu menghiasi malam-malamku.
Kembali lagi sejenak kudengarkan bacaan Alqur’an yang terdengar lirih mendekati pagi, dan lagi mata ini berkaca-kaca. Kondisi semacam ini mungkin tidak akan kudapatkan lagi seusai Ramadhan. Subhanallah, begitu agungnya bulan ini, telah menjadi sebab orang untuk berbondong-bondong ke masjid, mengurangi kemaksiatannya, memperbanyak bacaan Al Qur’an dan infaqnya. Sungguh bulan yang penuh kenangan membawa pesan-pesan mulia.
Wahai Ramadhan, satu pesan sosial akan kau sampaikan padaku melalui zakat fitrah yang harus kutunaikan hari ini, paling tidak nanti malam. Kuberharap bisa mengulurkan tangan ini langsung pada yang berhak. Perlu kau ketahui, sebagian harta ini bukanlah milikku, ini adalah titipan Allah yang harus kusampaikan pada pemiliknya.

Sungguh aku ingin zakat ini bukan semata-mata karena menunaikan salah satu rukun Islam saja, kuingin bisa mengambil pesan zakat ini di saat kusudah meninggalkan Ramadhan. Pesan yang mampu melembutkan hatiku terhadap kaum papa, menyadarkanku akan nikmat Allah yang selalu kuterima.
Begitu banyak pesan Ramadhan yang lewat di hadapanku bahkan terlewat, yang tak mampu kubaca, apalagi ku jaga.
Ya Allah mudahkanlah hamba untuk segera menyambut kebaikan, menjaga pesan-pesan Ramadhan ini mengiringi sisa hari-hariku selepas Ramadhan.
Selamat tinggal Ramadhan, ku kan merindukan perjumpaan ini. Semoga Allah panjangkan umurku untuk bisa bertemu denganmu lagi dan lebih memaksimalkan diri. Semoga pesan-pesanmu menjadikanku selalu ingat padamu.
Sampai jumpa Ramadhan……
اِلَى اللِّقَاء يَاشَهْرَرَمَضَان……….
اَللّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْم تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُعَنِّي
Tulisan Pesan Ramadhan ini ku ikutkan dalam lomba blog dijaminmurah.com yang merupakan salah satu penyedia web hosting, semoga tidak mengurangi kandungan nilai dan kelurusan niat. Amin









Subhanalloh, artikel yang mencerahkan.. semoga kita menjadi hambaNya yang sholih lagi mushlih
ini nulisnya waktu i’tikaf di nurus sunnah ya?
jazakumulloh khoir atas renungannya, semoga 11bulan kita lalui dan tetap melekat pesan pesan ramadan pada kita. amiin