Tips Parenting Islamy

Bismillahirrahmanirrahim

Page ini berisi tips-tips parenting islamy yang merupakan kumpulan dari naskah rubrik “Tips Pendidik” yang dimuat di majalah Anak Islam ABABIL. Insyaalloh setiap naskah yang telah disusun akan diposting di page ini setelah diterbitkan di majalah Anak Islam ABABIL.

di persilahkan memanfaatkan seluruh artikel di bawah ini dengan tetap menjaga amanah ilmiyah (menyertakan URL sumber atau maroji’nya)

Semoga bermanfaat…

 

Ayo nak, minta maaf

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 1

love

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan anak sesuai dengan kadar kesalahan dan kondisi seorang anak-anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan seorang anak tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan atau kesalahannya, dan sisi lain beliau menghukum juga dengan tidak berlebihan. Termasuk dalam menegur adalah mengingatkan seorang anak bila terjadi pertengkaran dengan teman lainnya (yang ini memang biasa terjadi pada anak-anak) untuk berani minta maaf. Minta maaf adalah sebuah wujud tanggung jawab terhadap kesalahan yang diperbuatnya. Dan dalam mengajarkan ini, orang tua harus dapat bersikap adil sehingga seorang anak tidak merasa terpojokkan dan mentalnya jatuh. Salah satu caranya adalah dengan mendorong kedua belah pihak untuk saling memaafkan sambil diingatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما زاد الله عبدا يعفو إلاّ عزّا و ما تواضع أحد لله إلاّ رفعه الله

“Allah tidak menambah seorang hamba yang mau memaafkan kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang itu bersikap rendah diri kepada Allah kecuali Allah pasti akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Biasakanlah mengucapkan kata “maaf” ketika akan meminta, melarang, atau membenarkan dan jangan menggurui. Misal “ maaf anak sholih, bisa mainannya dibawa masuk?” “maaf, sebelum makan cuci tangan dulu ya” dengan sering mendengar kata maaf, anak akan akrab dan tidak berat mengucapkannya.

 

***********************************

 

SALAHNYA KODOK

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 2

 

love

Ketika sedang berjalan jalan bersama ummi, tiba tiba si kecil terpeleset jatuh karena tidak memperhatikan ada kulit pisang di lantai, meledaklah tangis sikecil lalu serta merta ummi meraih si kecil sambil memukul mukul kulit pisang “uh.. uh…kulit pisang nakal bikin adek jatuh cep.. cep.. sayang tuh kulit pisangnya sudah ummi pukul”

Di lain tempat banyak ibu berkata “”Udah…, cep, cep, cep,….diam…!! Tuh, kodoknya udah lari…!” saat menenangkan anaknya yang jatuh.

Kalo Anda masih melakukan hal seperti itu, berusahalah keras untuk menghilangkannya. Kalo pengasuh anak Anda berperilaku “tradisional” seperti itu untuk meredakan tangisan anak Anda, segera ingatkan untuk tidak mengulanginya lagi.

“Perilaku tradisional” seperti contoh di atas akan sangat berbahaya kalo sampai terekam kuat dalam ingatannya anak kita. Saat dewasa kelak, anak kita akan tumbuh menjadi orang yang tidak mampu bertanggung jawab dan selalu menimpakan kesalahan pada orang lain. Seperti kesalahan yang ditimpakan pada kodok, kulit pisang atau lantai.

Lebih baik kita jelaskan pada anak untuk melangkah dan bertindak lebih hati-hati. Setiap langkah dan tindakan mengandung resiko yang harus dipertanggungjawabkan, termasuk jatuh yang mengandung resiko sakit atau luka. Katakan pada anak “cep sayang syafakalloh.. adek anak pemberani jadi tidak perlu menangis, lain kali kita harus lebih hati-hati ya..”

 

 

*****************************************

 

terapi untuk si cengeng

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 3

love

wajar jika banyak yang kesal terhadap si 5 tahun ini, begitu mudahnya dia menangis dan merengek. Permennya jatuh langsung menangis, minta ummi masuk kelas dengan merengek, sekedar diejek teman saja ngambek susah dibujuk.. satu sisi kasihan melihat si 5 tahun yang cengeng ini, namun kadang juga jengkel dibuatnya..

 

sebenarnya apa sih yang membuat si kecil begitu cengeng?

merasa tidak aman

rasa aman merupakan kebutuhan setiap manusia, jika anak merasa tidak aman maka dia cenderung mencari berbagai cara untuk melindungi diri salah satunya dengan menangis.

ibu terlalu melindungi

ibu seperti ini akan cepat bereaksi saat anaknya mengalami celaka sedikit saja, akibatnya anak terbiasa ditolong, tidak memiliki kemandirian dan kekuatan saat menghadapi masa sulit dan menegangkan, karenanya hanya bias menangis ketika menghadapi suasana tegang.

  1. mendapat keuntungan dari cengengnya

ketika anak menemukan kenyataan bahwa ia bias memperoleh apa yang dia inginkan denan menangis, segera ia akan gunakan senjata itu untuk mendapakkan apa saja yang ia inginkan.

Naah bagaimana terapi agar si kecil tidak cengeng?

  1. khawatir boleh tapi jangan berlebihan

kendalikan kekhawatiran ibu, separah apapun kondisi anak usahakan tetap tenang agar si kecil tidak menganggap peristiwa yang di alaminya menakutkan.

  1. tegas itu perlu

konsisten dalam menerapkan aturan ’ya’ dan ’tidak’ sangat perlu dalam terapi mengatasi cengeng ini. Anak akan cenderung merengek dengan harapan ibu akan mengabulkan keinginannya, kecuali jika dia tahu pasti ibu tidak akan mengabulkan keinginannya, karena tahu akan sia sia.

  1. penuhi rasa aman anak

ketika anak menangis, peluk terlebih dahulu agar menimbulkan rasa aman, sesaat kemudian baru mereka bisa diyakinkan bahwa kekhawatiran mereka takkan terjadi.

  1. latih anak menguatkan mentalnya

ketika anak menghadapi suasana yang menegangkan, latih mereka untuk menguasai diri, yakinkan pelan pelan bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah justru memperburuk keadaan.

  1. beri pujian ketika berhasil

jangan pusatkan pehatian pada kesalahannya. Diamkan dan jangan beri perhatian atau omelan tatkala anak menangis tanpa sebab. Sebaliknya segera beri pujian, perhatian dan kasih sayang saat anak berhasil menahan tangisnya

 

 

**************************************

 

 

meredakan badai tantrum

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 4

 

love

si kecil pun bisa menciptakan badai, badai tantrum namanya. yaitu perilaku si kecil yang tiba-tiba menunjukan kerewelannya dengan mengamuk,menangis keras,memukul,menendang dan menjerit hanya karena keinginannya tidak dimengerti atau tidak dituruti. meski dirasa sebagai ledakan dahsyat yang tak terkendali serta susah dipahami tapi hal itu wajar dan merupakan proses perkembangan yang normal si anak.bahkan para ahli psikologi anak justru mengkhawatirkan kalau ada anak yang tak pernah mengalaminya.

yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah mengendalikan tantrum tersebut supaya mengarah kepada hal yang lebih sehat misalnya menjadikan anak mampu menyatakan keinginnannya secara mandiri,menyuarakan pendapat,melepas energi emosi yang tertahan dibawah pengawasan kita serta dapat menjadi sinyal bagi kita saat anak mengalami kelelahan,rasa sakit yang tak terungkap dengan kata-kata.

penyebabnya secara umum karena anak merasa lapar,lelah,cemburu,belum dapat mengatakan dengan kalimat,belum dapat mengkoordinasikanantara tubuh dan pikiran atau karena perubahan rutinitas dan suasana dan mungkin juga sebab tertekan.

  1. intinya saat badai tantrum terjadi lakukan tips dibawah ini :pastikan anak dalam keadaan aman saat tantrum terjadi. anak memang sedang butuh perhatian namun jangan sampai melakukan hal-hal menyakiti diri sendiri . pindahkan anak jika tantrum terjadi di tempat ibadah atau umum lainnya biar keributannya tak menjadi perhatian orang.
  2. pastikan kita tetap tenangbiarkan anak melancarkan serangan badainya sampai dia dapat menenangkan dirinya sendiri. jangan terpancing untuk ikut emosi, kendalikan diri kita dengan menarik nafas dalam-dalam sambil mengucap ta’awudz untuk meredakannya dan menjauhlah sebentar dari hadapan anak , jangan lakukan apapun termasuk menasihatinya apalagi malah menghukum ataupun menyakiti anak.
  3. biarkan sajaselama tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi. usaha menghentikan tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama tantrum-nya dan meningkat intensitasnya. yang terbaik adalah membiarkannya. tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.
  1. kembalikan kontrol diri anakpeluklah anak sambil menyerap serta merasakan apa yang dirasakan anak hingga emosi mereda. katakan dengan lembut bahwa semua akan baik-baik saja insya allah anak akan luluhdan lebih tenang. namun jika justru kita yang tak dapat mengendalikan emosi melihat anak bertingkah seperti itu, maka hindarilah kontak fisik karena dikhawatirkan justru terpicu menyakiti anak.dampingilah supaya anak menyadari bahwa kita tak akan meninggalkannya dalam kesulitan anak
  1. maafkanlah serta lupakansaat sudah sedikit mereda,biarkan dia tenang dan kita perlu bersikap luwes dan kreatif untuk membantu anak memandang situasi ini dengan kesabaran.kelembutan dukungan dan cinta.sumber : screts to calming the storm

 

*******************************************

Etiket umum pendidikan anak muslim

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 5

 

 

  • love

    Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.

  • Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

  • Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan.
  • Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.

  • Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.

  • Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.

  • Dilarang bermain dengan hidungnya.

  • Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.

  • Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

  • Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.

  • Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

  • Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

  • Dibiasakan kebersihan mulut dengan menggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.
  • Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.

  • Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.

  • Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.
  • Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.

  • Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

  • Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).

  • Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.

  • Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.

  • Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
  • Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.

  • Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

  • Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.

  • Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.

  • Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

  • Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

  • Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.

  • Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.

(Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni,MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)

 

**************************************

Si kecil hobi jajan

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 6

Belum habis es krim dimakan sudah minta beli bakso, padahal belum tentu dimakan. Mainan mobil mobilan baru kemarin dbeli sudah bosan dan minta beli yang lain lagi, bukannya pelit tapi kan boros sekali jika dituruti terus.. padahal isalm membenci sikap boros.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’: 26-27)

Mengapa Anak Suka Boros?

Konsep boros harus dibatasi secara kasus per kasus sesuai dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing. Dengan demikian, boros adalah tindakan membelanjakan uang yang cenderung berlebih-lebihan, menurut tradisi umum yang berlaku dalam masyarakat tertentu, dan di luar batas kemampuan keluarga.

Lalu, mengapa anak suka boros? Setidaknya ada dua faktor yang membuat anak berperilaku boros. Pertama, faktor internal (bawaan), yaitu kecenderungan anak berperilaku boros sejak lahir.

Kedua, faktor eksternal, yaitu dorongan lingkungan keluarga atau pengaruh pergaulan. Maksudnya, jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang boros atau bergaul dengan teman yang boros, ia dapat terpengaruh menjadi anak yang boros.

Beberapa Kiat agar Anak Tidak Boros

1. Memberikan contoh kepada anak bagaimana berperilaku hemat.

Ketika orang tua berperilaku boros dan tidak bisa mengatur keuangannya, biasanya anak akan meniru perilaku orang tuanya.

2. Membiasakan anak sarapan pagi sebelum ke sekolah.

Biasakanlah anak sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolaah. Dengan keadaan perut yang kenyang, anak akan lebih konsentrasi dalam belajar sehingga tidak memikirkan jajan.

3. Menjelaskan kepada anak bahwa tidak semua jajanan itu sehat.

Dengan pengertian seperti itu, anak diharapkan dapat memperhatikan makanannya dan tidak mengikuti keinginan untuk jajan sembarangan.

4. Menyediakan makanan ringan di rumah.

Sediakan di rumah Anda makanan ringan yang sehat dan bergizi. Tentu tidak harus mahal, misalnya keripik kentang yang bisa dibuat sendiri. Selain itu, jika orang tua bepergian hendaknya tidak meninggalkan uang jajan yang berlebihan di rumah.

5. Melatih anak gemar menabung.

Latihlah anak agar gemar menabung dan hemat dalam berbelanja. Misalnya dengan menyisihkan seratus rupiah dari uang jajan untuk dimasukkan ke dalam celengan.

6. Mengajarkan nilai kerja keras dan empati kepada orang lain.

Berilah pengertian kepada anak bahwa untuk mendapatkan uang, diperlukan kerja keras dan gigih sehingga pemanfaatannya harus sehemat mungkin. Selanjutnya, asahlah kepekaan sosial anak dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana orang-orang di sekitarnya hidup dalam keadaan sulit.

7. Mengajarkan bagaimana merawat barang milik sendiri.

Dengan perawatan yang baik, mainan atau barang milik anak dapat terjaga dan tidak mudah rusak, sehingga pembelian untuk barang sejenis dapat ditekan. Mengajari anak untuk menyimpan mainannya sendiri setelah selesai bermain juga harus menjadi perhatian orang tua.

**************************

Si kecil yang pemalu

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 7

 

 

Si kecil sering disebut pemalu tatkala enggan bermain sendiri bersama teman-temannya bahkan cenderung lengket dengan ibunya. Ia menyembunyikan diri ketika orang lain menyapa dan lebih memilih berdiam diri daripada aktif beraktifitas. Sebenarnya apakah arti pemalu? Secara definitif, pemalu dijabarkan sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

 

Sebenarnya malu bukanla sifat yang tercela dalam Islam, bahkan dianjurkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yang terdahulu adalah ‘Apabila engkau tidak malu maka lakukan apa pun yg engkau mau’.”

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu– “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu. Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.”

 

Yang jadi masalah adalah ketika rasa malu itu berlebihan muncul pada diri anak sehinga menimbulkan berbagai dampak negatif seperti hilangnya kemampuan bersosialisasi atau bergaul, terpendamnya potensi diri, ketakutan yang tidak wajar dan lainnya. Nah rasa malu seperti inilah yang harus diterapi agar sifat malu ini dapat berfungsi sebagaimana hakikatnya yaitu mencegah dari berbuat kejelekan.

 

Selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah membantu si kecil  mengatasi masalahnya ini dengan cara berikut….

Tanamkan aqidah yang benar

Jadikan rasa malu kepada Alloh tertanam kuat pada jiwa anak. Jelaskan pada anak bahwa hanya Alloh sajalah dzat yang kita sembah, kita takuti dan meminta pertolongan. Alloh akan mengawasi dan menjaga kita dimanapun kitaberada, karenanya kita tidak boleh berbuat yang tidak baik walau tidak ada orang yang melihat.

Latih anak untuk bersosialisasi

Sedikit demi sedikit ajaklah anak berkunjung ke rumah sanak keluarga atau teman. cara ini sangat membantu, apalagi bila sanak keluarga juga mempunyai anak yang sebaya. Selain melatih anak untuk gak jadi pemalu, juga akan melatih keterampilan sosialnya. Sertakan pula si kecil ketika menghadiri majelis2 ilmu(pengajian, dll) agar terbiasa dengan suasana ditengah umum.

Lakukan bertahap

Lakukan terapi adaptasi secara bertahap. Mulanya anak ditemani dulu ketika sedang bermain dengan temannya, lalu secara bertahap ditinggal sampai akhirnya ia berani sendiri. hindari memaksa ya karena cara ini justru akan membuat anak trauma dan semakin menarik diri.

Relaksasi

Relaksasi bisa dilakukan untuk menurunkan kecemasan anak. Biasanya pada anak pemalu berada pada lingkungan sosial, bisa membuat tertekan dan akhirnya cemas. mengajak anak rekreasi ke taman bermain atau melakukan kegiatan lainnya yang menyenangkan merupakan bentuk relaksasi yang bisa dicoba.

Beri reward atau dukungan

Orang tua perlu memberi reward (penghargaan) ketika anak mulai menunjukkan keberanian atau usaha untuk bersosialisasi, sekecil apapun itu tetap perlu didukung agar anak termotivasi untuk melakukannya lagi, kita bisa katakan ” subhanalloh, anak ummi hebat ya mau mengantar minuman buat tamu”. mengkondisikan sejak dini pada anak bahwa berteman atau berada di suatu lingkungan sosial itu menyenangkan juga perlu dilakukan. katakan ” tadi menyenangkan ya bertemu banyak teman” atau ‘ tadi menyenangkan ya main ditempat Adi” dst.

Tumbuhkan rasa percaya diri anak

Orang tua juga perlu mencermati, kira-kira anak punya keterampilan apa. Apa sih yang menonjol pada diri anak? Misalnya, meski pemalu, tapi anak ternyata pandai menyusun aneka permainan. Nah, kembangkanlah keterampilannya ini. Dengan begitu, anak akan tahu bahwa ia punya potensi. Ini juga akan membantu meningkatkan kepercayaan diri anak,

Berikan atmosfer keluarga yang hangat

Yang tak kalah penting ialah berikan atmosfer keluarga yang hangat, yaitu rasa aman sewajarnya. Bukan berarti memanjakan. tapi berikan kasih sayang sepenuhnya, kehangatan komunikasi yang baik di keluarga juga perlu agar anak merasa aman, sehingga ia akan mempersepsikan lingkungan sekitarnya sebagai suatu situasi yang menyenangkan pula baginya.

Jadilah teladan yang baik

Pada dasarnya anak adalah peniru ulung, dia akan meniru cara orang tuanyadalam bersosialisasi. Karenanya berilah teladan yang baik terkait penerapan adab adab islami dalam bermuamalah (memberi salam, membantu orang yang membutuhkan, berjabat tangan ketika akan berpisah, saling mendoakan, dll)

Demikian beberapa tips yang dapat dilakukan agar rasa malu pada anak memiliki porsi yang pas, sehingga bermanfaat bagi diri dan agamanya. Wa billahi taufiq wal hidayah

******************************

BEBERAPA KESALAHAN PARA PENDIDIK

di Susun oleh: Ummu Raihan

untuk Malalah ABABIL vol I / edisi 8

 

Berikut ini sebagian kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendidik. Semoga Allah memberikan maunah (pertolongan)-Nya kepada kita untuk dapat menjauhinya dan menunjukkan kita kepada kebenaran.

 

  1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan.

Ini merupakan kesalahan terpenting karena anak belajar dari orangtua beberapa hal. tetapi ternyata bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Tindakan ini berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak.

 

  1. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak.

Anak akhimya menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya. Sementara, kalau kedua orangtua mempunyai cara yang sama dan tidak memujukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.

 

  1. Membiarkan anak jadi korban televisi.

Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fithrah mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak pun penuh dengan pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan.

 

  1. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anakkepada pembantu atau pengasuh.

jika kita terpaksa mengambil pembantu, usahakanlah mendapat pembantu muslimah yang baik dan usahakan tidak bersama anak kecuali sebentar saja dalam keadaan terpaksa.

 

  1. Pendidik menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak.

Ini banyak tejadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: “Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup. Tak tahu, apa yang kuperbuat dengannya. Padahal anak mendengarkan ucapan ini maka ia pun merasa bangga dapat mengganggu ibunya dan membandel karena dapat menunjukkan keberadaannya dengan cara itu.

 

  1. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan.

Hukuman adalah sesuatu yang disyariatkan dan termasuk salah satu sarana pendidikan yang berhasil yang sesekali mungkin diperlukan pendidik. Namun ada yang sangat berlebihan dalam menggunakan sarana ini, sehingga membuat sarana itu berbahaya dan berakibat yang sebaliknya.

 

  1. Berusaha mengekang anak secara berlebihan.

permainan penting bagi pertumbuhan anak dengan baik. “Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesehatannya.”

 

  1. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya.

seyogianya kita mempersiapkan anakanak kita untuk dapat mekksanakan tugas-tugas dien dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah

 

 

 

1 Komentar »

  1. […] ashlihliy diyniy..alladziy huwa ‘ismatu ‘amry… terakhir, jazakillahkhoyr 4 Umm Raihan atas draft kurikulumnya yang ana adaptaasi semoga jadi tabungan pahala yang menjemput kita […]


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: